ArticleUrban and Regional Planning

RTH dan Barometer Lingkungan Perkotaan

Apa yang terlintas dipikiran Podivers ketika mendengar kata RTH? Ruang terbuka pada dasarnya terdiri dari ruang terbuka hijau (RTH) dan ruang terbuka non hijau (RTNH). Nah, sekarang kita akan kenalan dengan ruang terbuka hijau. Sebelum kita bahas lebih jauh sebaiknya kita tahu dulu apa itu ruang terbuka hijau.Menurut UU No. 26 Tahun 2007 dalam Aditantri 2019 mendefinisikan ruang terbuka sebagai ruang – ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area / kawasan maupun dalam bentuk area memanjang / jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan.

RTH merupakan ruang terbuka yang ditumbuhi tanaman. Sehingga ruang terbuka yang tidak ditumbuhi tanaman tidak dapat digolongkan sebagai RTH. Nah Podivers berdasarkan definisi di atas kita bisa membedakan RTH dan RTNH dari ciri-cirinya apakah ruang terbuka tersebut ditumbuhi dan didominasi oleh tanaman atau tidak.

Dikutip dari Samsudi (2010) menyebutkan beberapa tujuan dari penataan RTH di suatu kota adalah : Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan, mewujudkan keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan / binaan di wilayah perkotaan, serta meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih, dan nyaman.

RTH menjadi bagian penting dalam upaya melestarikan ekosistem di dalamnya. Bagaimana tidak, hal ini tergambarkan dari manfaat RTH itu sendiri yang mencakup segala aspek kehidupan yang meliputi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Sebut saja pada aspek sosial RTH sebagai wadah untuk masyarakat kota berinteraksi / kontak sosial, berkumpul dan melakukan kegiatan kebudayaan lainnya. Manfaat sosial ini diartikan dengan pemanfaatan RTH secara langsung, sebagai contoh RTH sebagai sarana rekreasi, tempat bermain dan berolahraga, tempat santai, pendidikan, penelitian dan tempat komunikasi sosial.

RTH saat ini menjadi pilihan menarik, nyaman dan murah bagi masyarakat perkotaan sebagai tujuan wisata. Sehingga tak heran pemerintah giat mengembangkan RTH di berbagai wilayah. Selain dari manfaat langsung yang disebutkan di atas RTH juga secara tidak langsung bermanfaat untuk menjaga kualitas lingkungan di sekitar perkotaan.

RTH menyediakan daerah resapan air hujan sehingga mencegah genangan hingga banjir. Tersedianya hijauan di RTH sebagai alat untuk mengurangi polusi udara, mempengaruhi suhu perkotaan, menjaga ekosistem tanah, sebagai rumah bagi hewan lain. Jadi, Podivers RTH menjadi salah satu barometer untuk mejadikan perkotaan yang sehat secara fisik dan psikologis.

Source : Google

Podivers ada yang kenal dengan RTH ini? Atau ada yang sudah pernah melakukan kegiatan disini? Yap, ini adalah Taman Suropati yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Taman ini merupakan pusat kawasan Menteng. Letaknya tepat di pertemuan tiga jalan utama yaitu Menteng Boulevard, Orange Boulevard, dan Nassau Boulevard.

Selaras dengan manfaat RTH yang sudah kita bahas tadi, Podivers bisa melakukan berbagai kegiatan di Taman Suropati seperti olah raga, diskusi kelompok belajar, penelitian, melihat enam Monumen ASEAN, wisata kuliner, atau hanya sekedar foto-foto.

Ada beberapa pilihan RTH yang bisa Podivers kunjungi sebagai alternatif tujuan wisata untuk sekedar melepas penat dari rutinitas padat perkuliahan, atau tempat menemukan inspirasi dalam menyelesaikan tugas yang menumpuk, diantaranya:

  1. Taman Cattleya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat
  2. Taman Spathodea di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan
  3. Taman Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur
  4. Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat
  5. Taman Tribeca, Grogol Petamburan, Jakarta Barat
Taman Cattleya, Jakarta Barat
Taman Tribeca, Jakarta Barat

Taman-taman tersebut bisa dikunjungi tanpa dipungut biaya loh! Selain bisa bersantai dan piknik dengan keluarga serta teman, dengan mengunjungi RTH kita ikut serta dalam mengaktifkan pemanfaatan RTH agar tidak mati suri.

Part of : Urban and Regional Planning

Writer : Rahmi Taufika
Editor : Marcomm