Quantity Surveyor : Kebutuhan Banyak, Peminat Sedikit

Tidak banyak yang tahu bahwa saat ini Indonesia membutuhkan banyak sekali Quantity Surveyor (QS) untuk mendukung proyek-proyek pembangunan yang sedang digalakkan baik oleh pemerintah maupun swasta. Bahkan masih banyak orang yang masih asing dengan profesi ini, termasuk para siswa dan mahasiswa. Penyebabnya adalah minimnya informasi tentang QS.

Sani Heryanto, Dekan Fakultas Teknik Podomoro University

 

 Untuk tujuan lebih memperkenalkan profesi QS inilah, Podomoro University menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema : Quantity Surveying Education in Indonesia and Overseas – the Supply and Demand. Seminar diadakan di dalam area Indonesia Building Technology Expo yakni di Ruang Garuda 12 ICE BSD City pada hari Minggu tanggal 6 Mei 2018. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini : Dr. Ir. Paristyanti Nurwardani, M.P (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek RI), SR Permadi Soemarahatianto MRICS, MRISM-IQSI (Dewan Pengawas IQSI), Paul Christian Ariyanto (Direktur Agung Podomoro Land), Prof. Zakaria Moch. Yusof (Associate Professor UTM Malaysia), Dr. Zulherman ST, M.Sc. (Univ. Bung Hatta Padang) dan Ferdinand Fassa, S.T., M.T (Podomoro University). Seminar ini dibuka oleh Sani Heryanto, S.T., M.T (Dekan Fakultas Teknik Podomoro University).

 

Quantity Surveyor adalah profesi yang awalnya hanya dikenal di negara-negara persemakmuran (Commonwealth) yakni negara-negara bekas jajahan Inggris seperti Malaysia, India, Australia, New Zealand termasuk UK. QS adalah orang yang bertanggung jawab dalam hal :

  • Membuat estimasi biaya proyek pembangunan
  • Pengendalian biaya konstruksi
  • Administrasi kontrak dan arbitrator

 

QS memegang peran penting di dalam pembangunan konstruksi karena dialah yang menghitung biaya proyek. Kesalahan yang dilakukan oleh QS bisa berakibat fatal seperti kerugian finansial bahkan proyek mangkrak akibat salah hitung estimasi biaya. Namun ironisnya tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang benar-benar fokus menyiapkan QS yang profesional dan berstandar internasional. Universitas Bung Hatta di Padang adalah universitas pertama yang memiliki program studi QS dengan nama Teknik Ekonomi Konstruksi sejak tahun 2002 disusulkan dengan Podomoro University dengan program studi Manajemen Rekayasa Konstruksi. Total profesional QS yang dihasilkan oleh universitas tersebut baru mencapai 388 orang. Sedangkan kebutuhan QS di Indonesia adalah 8.800 orang.

 

Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan Malaysia. Di Malaysia ada 7 Universitas Negeri dan 10 universitas swasta yang menyelengarakan pendidikan QS. Setiap tahun mereka menghasilkan 500 QS per tahun. Padahal jumlah penduduk Malaysia dan volume proyek konstruksi bangunan jauh lebih kecil dibanding Indonesia. Langkanya tenaga lokal QS  Indonesia bisa menyebabkan masuknya tenaga asing untuk mengisi kekosongan ini. Oleh karena itu perguruan tinggi di Indonesia harus segera merespon kesenjangan ini dengan mendidik lebih banyak lagi QS handal berstandar internasional.

 

Di sisi lain, kesenjangan ini merupakan peluang bagi para lulusan SMA/SMK kita. Banyak para lulusan SMA/SMK kebingungan mau ambil jurusan apa saat kuliah nanti. Sebagian ada yang memilih hanya karena ikutan temannya, ada juga yang karena tuntutan orang tua. Nah, sekarang ada pilihan jurusan yang lulusannya pasti sangat dibutuhkan: Quantity Surveyor ! Pilihlah universitas yang memiliki konsentrasi ke QS seperti Podomoro University Jakarta atau Universitas Bung Hatta di Padang.

 

#fakultasteknik

 

Penulis : Iwan S. Dani

 

Instagram: @podomorouniversity | Facebook: Pomodoro University | Twitter: @PodomoroUniv

08 May 2018