Hi Calon Young Planners, Yuk Ketahui Lebih Lanjut Tentang Pengembangan Kota Baru di Indonesia

Bagi kalian calon para young planners, tahukah kalian mengenai konsep Kota Baru? Atau sudahkah kalian dengar tentang pengembangan Kota Baru di Indonesia? Well, let’s check this out, pals!

Pasti kalian pernah dengar atau jangan-jangan ada diantara kalian yang tinggal di Bumi Serpong Damai, Lippo Cikarang, Alam Sutera, Pluit City, Jababeka, Maja, Kemayoran, atau Meikarta nih.... (upss.. kalau Meikarta masih tahap pembangunan yah.. hehehe...) Nah, kawasan-kawasan tersebut adalah merupakan beberapa dari sekian banyak implementasi konsep kota baru yang telah dikembangkan oleh pemerintah maupun pengembang di Indonesia. Kawasan tersebut dibangun karena adanya kebutuhan akan perumahan dan permukiman yang semakin sulit dijangkau di area pusat kota akibat dari adanya peningkatan harga lahan yang pesat. Selain itu, pengembangan kota baru tersebut diyakini dapat membantu membuka roda perekonomian sekitar, melalui pembukaan area kegiatan perekonomian baru serta perkembangan jaringan infrastruktur.

Nah, konsep kota baru merupakan salah satu cara untuk memecahkan masalah perumahan dan permukiman kota. Konsep ini semula dikembangkan di Inggris, yang pada akhirnya menjadi landasan pemikiran guna memecahkan masalah perumahan dan permukiman kota di negara lain. Di Indonesia sendiri, konsep kota baru mulai diterapkan sekitar dekade 1950-an.

Pada awal permulaan penerapan kota baru, pemikiran dasar kota baru di Indonesia masih mengarah ke upaya pengembangan oleh kewenangan pemerintah. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kota baru di Indonesia saat ini identik dengan pengembangan suatu area atau kawasan permukiman atau perumahan mandiri yang kewenangan pembangunan dan pengembangannya berada di bawah pihak swasta atau developer, yang mana orientasi pihak swasta cenderung ‘profit oriented’, tidak lagi murni untuk melayani kebutuhan perumahan penduduk.

Seperti yang teman-teman sudah duga, dengan adanya pergeseran konsep kota baru seperti yang telah dijelaskan di atas, maka munculah pro dan kontra dari berbagai kalangan, seperti adanya ketimpangan penggunaan hunian antar-kelas masyarakat, dampak lingkungan dari pembangunan kawasan kota baru terhadap area sekitarnya, isu mengenai kegiatan ekonomi dan infrastruktur, serta kesesuaian izin pemanfaatan ruang.

Belum lagi nih, tantangan lain yang patut diperhitungkan adalah konsistensi implementasi rencana pengembangan kota baru. Tidak sedikit implementasi pengembangan kota baru yang mengalami kemandekan di tengah jalan karena berbagai faktor. Salah satu contoh nyata adalah kemandekan implementasi rencana
pengembangan Kota Baru Maja, di Lebak, Banten. Padahal, proyek Kota Baru Maja ini sudah dicanangkan sejak 1996-1997. Alasan penyebab terhentinya proyek tersebut karena krisis ekonomi pada 1998.

Rencana Pengembangan Kota Baru oleh Pemerintah dan Pengembang (Swasta)

Sumber: Suhendra, 2017


Nah, bagi kamu calon young planners, tantangan dan peluang kalian kedepan nanti adalah mencari solusi bagaimana agar pemerintah dapat bertindak sehingga pengembangan kota baru di Indonesia tidak melulu untuk kepentingan pasar yang cenderung ‘profit oriented’. ^^

(Yovi D. Rahmawati).

DAFTAR PUSTAKA
Suhendra, 2017, Kota Baru dan Mimpi James Riady di Meikarta, https://tirto.id/kota-baru-dan-mimpi-james-riady-di-meikarta-covn, diakses tanggal 30 Oktober 2017


Sujarto, Djoko, 1993, Perkembangan Kota Baru, Jurnal PWK ITB, Vol.4 No.9, hal.3-34, http://journals.itb.ac.id/index.php/jpwk/article/view/5773/2893

26 January 2018